Mau tau tentang SEJARAH INDONESIA ?. Gw punya sedikit informasi nie buat anda yang pengen tau tentang sejarah indonesia .
Periode Kejayaan Portugis di Nusantara
Periode 1511-1526, selama 15 tahun, Nusantara menjadi pelabuhan
maritim penting bagi Kerajaan Portugis, yang secara reguler menjadi rute
maritim untuk menuju Pulau Sumatera, Jawa, Banda, dan Maluku.
Pada tahun 1511 Portugis mengalahkan Kerajaan Malaka.
Pada tahun 1511 Portugis mengalahkan Kerajaan Malaka.
Pada tahun 1512 Portugis menjalin komunikasi dengan Kerajaan
Sunda untuk menandatangani perjanjian dagang, terutama lada. Perjanjian
dagang tersebut kemudian diwujudkan pada tanggal 21 Agustus 1522 dalam
bentuk dokumen kontrak yang dibuat rangkap dua, satu salinan untuk raja
Sunda dan satu lagi untuk raja Portugal. Pada hari yang sama dibangun
sebuah prasasti yang disebut Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal di suatu
tempat yang saat ini menjadi sudut Jalan Cengkeh dan Jalan Kali Besar
Timur I, Jakarta Barat. Dengan perjanjian ini maka Portugis dibolehkan
membangun gudang atau benteng di Sunda Kelapa.
Pada tahun 1512 juga Afonso de Albuquerque mengirim Antonio Albreu
dan Franscisco Serrao untuk memimpin armadanya mencari jalan ke tempat
asal rempah-rempah di Maluku. Sepanjang perjalanan, mereka singgah di
Madura, Bali, dan Lombok. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa,
armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara hingga
tiba di Ternate.
Kehadiran Portugis di perairan dan kepulauan Indonesia itu telah
meninggalkan jejak-jejak sejarah yang sampai hari ini masih
dipertahankan oleh komunitas lokal di Nusantara, khususnya flores, Solor
dan Maluku, di Jakarta Kampong Tugu yang terletak di bagian Utara
Jakarta, antara Kali Cakung, pantai Cilincing dan tanah Marunda.
Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada
tahun 1512. Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing dibawah
pimpinan Anthony d'Abreu dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan
Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka menjalin persahabatan dengan
penduduk dan raja-raja setempat - seperti dengan Kerajaan Ternate di
pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli,
begitupula Negeri Hitu lama, dan Mamala di Pulau Ambon.Namun hubungan
dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis
menerapkan sistem monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen.
Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier. Tiba di Ambon
14 Pebruari 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada
tahun 1547, dan tanpa kenal lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di
Kepulauan Maluku untuk melakukan penyebaran agama. Persahabatan Portugis
dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah
selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari
Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.
Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis, dimanfaatkan Belanda
untuk menjejakkan kakinya di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil
memaksa Portugis untuk menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven
van der Hagen dan di Tidore kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula
benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram, dihancurkan oleh Belanda. Sejak
saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar wilayah Maluku.
Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada
tahun 1602, dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di
Maluku. Di bawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, Kepala Operasional
VOC, perdagangan cengkih di Maluku sepunuh di bawah kendali VOC selama
hampir 350 tahun. Untuk keperluan ini VOC tidak segan-segan mengusir
pesaingnya; Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahkan puluhan ribu orang
Maluku menjadi korban kebrutalan VOC.
kemudian mereka membangun benteng di Ternate tahun 1511, kemudian
tahun 1512 membangun Benteng di Amurang Sulawesi Utara. Portugis kalah
perang dengan Spanyol maka daerah Sulawesi utara diserahkan dalam
kekuasaan Spanyol (1560 hingga 1660). Kerajaan Portugis kemudian
dipersatukan dengan Kerajaan Spanyol. (Baca buku :Sejarah Kolonial
Portugis di Indonesia, oleh David DS Lumoindong). Abad 17 datang armada
dagang VOC (Belanda) yang kemudian berhasil mengusir Portugis dari
Ternate, sehingga kemudian Portugis mundur dan menguasai Timor timur
(sejak 1515).
Kolonialisme dan Imperialisme mulai merebak di Indonesia sekitar
abad ke-15, yaitu diawali dengan pendaratan bangsa Portugis di Malaka
dan bangsa Belanda yang dipimpin Cornellis de Houtman pada tahun 1596,
untuk mencari sumber rempah-rempah dan berdagang.
Perlawanan Rakyat terhadap Portugis
Kedatangan bangsa Portugis ke Semenanjung Malaka dan ke Kepulauan Maluku merupakan perintah dari negaranya untuk berdagang.
Perlawanan Rakyat Malaka terhadap Portugis
Pada
tahun 1511, armada Portugis yang dipimpin oleh Albuquerque menyerang
Kerajaan Malaka. Untuk menyerang colonial Portugis di Malaka yang
terjadi pada tahun 1513 mengalami kegagalan karena kekuatan dan
persenjataan Portugis lebih kuat. Pada tahun 1527, armada Demak di bawah
pimpinan Fatahillah/Falatehan dapat menguasai Banten,Suda Kelapa, dan
Cirebon. Armada Portugis dapat dihancurkan oleh Fatahillah/Falatehan dan
ia kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang artinya
kemenangan besar, yang kemudian menjadi Jakarta.
Perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis
Mulai
tahun 1554 hingga tahun 1555, upaya Portugis tersebut gagal karena
Portugis mendapat perlawanan keras dari rakyat Aceh. Pada saat Sultan
Iskandar Muda berkuasa, Kerajaan Aceh pernah menyerang Portugis di
Malaka pada tahun 1615 dan 1629.
Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis
Bangsa
Portugis pertama kali mendarat di Maluku pada tahun 1511. Kedatangan
Portugis berikutnya pada tahun 1513. Akan tetapi, Ternate merasa
dirugikan oleh Portugis karena keserakahannya dalam memperoleh
keuntungan melalui usaha monopoli perdagangan rempah-rempah.
Pada
tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku
untuk mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang
dipimpin oleh Sultan Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap
bangsa Portugis, namun dapat diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya
tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede. Selanjutnya dipimpin oleh
Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis diusir yang kemudian bermukim
di Pulau Timor.
Kolonisasi Spanyol
Ferdinand Magelhaens (kadang
juga ditulis Ferdinan) Magelan. Karena tokoh inilah, yang memimpin
armada yang pertama kali mengelilingi dunia dan membuktikan bahwa bumi
bulat, saat itu itu dikenal oleh orang Eropa bumi datar.
Dimulainya Kolonisasi berabad-abad oleh Spanyol bersama bangsa Eropa
lain, terutama Portugis,Inggris dan Belanda.
Dari Spanyol ke Samudra
Pasifik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Pasifik,
melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini
penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari
rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.
”Pada
abad 16 saat petualangan itu dimulai biasanya para pelaut negeri
Katolik itu diberkati oleh pastor dan raja sebelum berlayar melalui
samudera.
Pada
tanggal 20 September 1519, San Antonio, Concepción, Victoria, dan
Santiago—yang terbesar hingga yang terkecil—mengikuti kapal induk
Magelhaens, Trinidad, kapal terbesar kedua, seraya mereka berlayar
menuju Amerika Selatan. Pada tanggal 13 Desember, mereka mencapai
Brasil, dan sambil menatap Pāo de Açúcar, atau Pegunungan Sugarloaf,
yang mengesankan, mereka memasuki teluk Rio de Janeiro yang indah untuk
perbaikan dan mengisi perbekalan. Kemudian mereka melanjutkan ke selatan
ke tempat yang sekarang adalah Argentina, senantiasa mencari-cari el
paso, jalur yang sulit ditemukan yang menuju ke samudera lain. Sementara
itu, udara semakin dingin dan gunung es mulai tampak. Akhirnya, pada
tanggal 31 Maret 1520, Magelhaens memutuskan untuk melewatkan musim
salju di pelabuhan San Julián yang dingin.
Pelayaran
tersebut kini telah memakan waktu enam kali lebih lama daripada
pelayaran Columbus mengarungi Samudra Atlantik yang pertama kali—dan
belum terlihat satu selat pun! Semangat juang mereka mulai sedingin
cuaca di San Julián, dan pria-pria, termasuk beberapa kapten serta
perwira, merasa putus asa dan ingin pulang saja. Tidaklah mengherankan
bila terjadi pemberontakan. Namun, berkat tindakan yang cepat dan tegas
di pihak Magelhaens, hal itu digagalkan dan dua pemimpin pemberontak
tersebut tewas.
Kehadiran
kapal asing di pelabuhan pastilah menarik perhatian penduduk lokal yang
kuat—dan berbadan besar. Merasa seperti orang kerdil dibandingkan
dengan raksasa-raksasa ini, para pengunjung tersebut menyebut daratan
itu Patagonia—dari kata Spanyol yang berarti "kaki besar"—hingga hari
ini. Mereka juga mengamati 'serigala laut sebesar anak lembu, serta
angsa berwarna hitam dan putih yang berenang di bawah air, makan ikan,
dan memiliki paruh seperti gagak'. Tentu saja tidak lain tidak bukan
adalah anjing laut dan pinguin!
Daerah
lintang kutub cenderung mengalami badai yang ganas secara tiba-tiba,
dan sebelum musim dingin berakhir, armada itu mengalami korban
pertamnya—Santiago yang kecil. Namun, untunglah para awaknya dapat
diselamatkan dari kapal yang karam itu. Setelah itu, keempat kapal yang
masih bertahan, bagaikan ngengat kecil bersayap yang terpukul di tengah
arus laut yang membeku dan tak kunjung reda, berjuang sekuat tenaga
menuju ke selatan ke perairan yang semakin dingin—hingga tanggal 21
Oktober. Berlayar di bawah guyuran air hujan yang membeku, semua mata
terpaku pada sebuah celah di sebelah barat. El paso? Ya! Akhirnya,
mereka berbalik dan memasuki selat yang belakangan dikenal sebagai Selat
Magelhaens! Namun, bahkan momen kemenangan ini ternoda. San Antonio
dengan sengaja menghilang di tengah jaringan rumit selat itu dan kembali
ke Spanyol.
Ketiga
kapal yang masih bertahan, diimpit oleh teluk yang sempit di antara
tebing-tebing berselimut salju, dengan gigih berlayar melewati selat
yang berkelok-kelok itu. Merek mengamati begitu banyaknya api di sebelah
selatan, kemungkinan dari perkemahan orang Indian, jadi mereka menyebut
daratan itu Tierra del Fuego, “Tanah Api”.
Tiba
di Pilipina Magelhaens mengajak para penduduk lokal dan pimpinan mereka
untuk memeluk agama Katolik. Tetapi semangatnya juga menjadi bencana,
dimana kemudian ia terlibat dalam pertikaian antarsuku. Hanya dengan
dibantu kekuatan 60 pria, ia menyerang sekitar 1.500 penduduk pribumi,
dengan keyakinan bahwa meskipun harus melawan senapan busur, senapan
kuno, namun Tuhan akan menjamin kemenangannya. Akan tetapi yang terjadi
adalah Sebaliknya, ia dan sejumlah bawahannya tewas. Magelhaens pada
saat itu berusia sekitar 41 tahun. Pigafetta yang setia meratap, 'Mereka
membunuh cerminan, penerang, penghibur, dan penuntun sejati kita'.
Beberapa hari kemudian, sekitar 27 perwira yang hanya menyaksikan dari
kapal mereka, dibunuh oleh para kepala suku yang sebelumnya bersahabat.
Dikarenakan jumlah awak kapal yang tersisa hanya sedikit, sehingga tidak mungkin untuk berlayar menggunakan tiga kapal, mereka kemudian menenggelamkan Concepción dan berlayar dengan dua kapal yang masih tersisa, Trinidad dan Victoria ke tujuan terakhir mereka, yaitu kepulauan Rempah. Setelah ke 2 kapal tersebut diisi penuh dengan rempah-rempah, kemudian kedua kapal itu kembali berlayar secara terpisah. Akan tetapi salah satu dari ke 2 kapal tersebut,Trinidad tertangkap oleh Portugis dan kemudian awak kapalnya dipenjarakan.
Namun,
Victoria, di bawah komando mantan pemberontak Juan Sebastián de Elcano,
luput. Sambil menghindari semua pelabuhan kecuali satu, mereka
mengambil risiko melewati rute Portugal mengelilingi Tanjung Harapan.
Namun, tanpa berhenti untuk mengisi perbekalan merupakan strategi yang
mahal. Sewaktu mereka akhirnya mencapai Spanyol pada tanggal 6 September
1522—tiga tahun sejak keberangkatan mereka—hanya 18 pria yang sakit dan
tidak berdaya yang bertahan hidup. Meskipun demikian, tidak dapat
dibantah bahwa merekalah orang pertama yang berlayar mengelilingi bumi.
Juan Sebastián de Elcano pun menjadi pahlawan. Sungguh suatu hal yang
menakjubkan, muatan rempah Victoria seberat 26 ton menutup ongkos
seluruh ekspedisi!
Ketika
satu kapal yang selamat, Victoria, kembali ke pelabuhan setelah
menyelesaikan perjalanan mengelilingi dunia yang pertama kali, hanya 18
orang laki-laki dari 237 laki-laki yang berada di kapal pada awal
keberangkatan. Di antara yang selamat, terdapat dua orang Itali, Antonio
Pigafetta dan Martino de Judicibus. Martino de Judicibus (bahasa
Spanyol: Martín de Judicibus) adalan orang dari Genoa yang bertindak
sebagai Kepala Pelayan. Ia bekerja dengan Ferdinand Magellan pada
perjalanan historisnya untuk menemukan rute barat ke Kepulauan
Rempah-rempah Indonesia. Sejarah perjalanannya diabadikan dalam
pendaftaran nominatif pada Archivo General de Indias di Seville,
Spanyol. Nama keluarga ini disebut dengan patronimik Latin yang tepat,
yakni: "de Judicibus". Pada awalnya ia ditugaskan pada Caravel
Concepción, satu dari lima armada Spanyol milik Magellan. Martino de
Judicibus memulai ekspedisi ini dengan gelar kapten. (baca selengkapnya
dalam buku "Sejarah Kolonial Spanyol di Indonesia" oleh David DS
Lumoindong.
Sebelum menguasai kepulauan Filipina pada 1543, Spanyol menjadikan pulau Manado Tua sebagai tempat persinggahan untuk memperoleh air tawar. Dari pulau tersebut kapal-kapal Spanyol memasuki daratan Sulawesi-Utara melalui sungai Tondano. Hubungan musafir Spanyol dengan penduduk pedalaman terjalin melalui barter ekonomi bermula di Uwuran (sekarang kota Amurang) ditepi sungai Rano I Apo. Perdagangan barter berupa beras, damar, madu dan hasil hutan lainnya dengan ikan dan garam.
Gudang
Kopi Manado dan Minahasa menjadi penting bagi Spanyol, karena kesuburan
tanahnya dan digunakan Spanyol untuk penanaman kofi yang berasal dari
Amerika-Selatan untuk dipasarkan ke daratan Cina. Untuk itu di- bangun
Manado sebagai menjadi pusat niaga bagi pedagang Cina yang memasarkan
kofi kedaratan Cina. Nama Manado dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli
peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manado juga menjadi daya tarik
masyarakat Cina oleh kofi sebagai komoditi ekspor masyarakat pedalaman
Manado dan Minahasa. Para pedagang Cina merintis pengembangan gudang
kofi (kini seputar Pasar 45) yang kemudian menjadi daerah pecinan dan
pemukiman. Para pendatang dari daratan Cina berbaur dan berasimilasi
dengan masyarakat pedalaman hingga terbentuk masyarakat pluralistik di
Manado dan Minahasa bersama turunan Spanyol, Portugis dan Belanda.
Kemunculan
nama Manado di Sulawesi Utara dengan berbagai kegiatan niaga yang
dilakukan Spanyol menjadi daya tarik Portugis sejak memapankan posisinya
di Ternate . Untuk itu Portugis melakukan pendekatan mengirim misi
Katholik ke tanah Manado dan Minahasa pada 1563 dan mengembangkan agama
dan pendidikan Katholik. Lomba Adu Pengaruh di Laut Sulawesi
Antara
Minahasa dengan Ternate ada dua pulau kecil bernama Mayu dan Tafure.
Kemudian kedua pulau tadi dijadikan pelabuhan transit oleh pelaut
Minahasa. Waktu itu terjadi persaingan Portugis dan Spanyol dimana
Spanyol merebut kedua pulau tersebut. Pandey asal Tombulu yang menjadi
raja di pulau itu lari dengan armada perahunya kembali ke Minahasa, tapi
karena musim angin barat lalu terdampar di Gorontalo. Anak lelaki
Pandey bernama Potangka melanjutkan perjalanan dan tiba di Ratahan. Di
Ratahan, dia diangkat menjadi panglima perang karena dia ahli menembak
meriam dan senapan Portugis untuk melawan penyerang dari Mongondouw di
wilayah itu. Tahun 1563 diwilayah Ratahan dikenal orang Ternate dengan
nama “Watasina” karena ketika diserang armada Kora-kora Ternate untuk
menhalau Spanyol dari wilayah itu (buku “De Katholieken en hare Missie”
tulisan A.J. Van Aernsbergen). Tahun 1570 Portugis dan Spanyol
bersekongkol membunuh raja Ternate sehinga membuat keributan besar di
Ternate. Ketika itu banyak pedagang Islam Ternate dan Tidore lari ke
Ratahan. Serangan bajak laut meningkat di Ratahan melalui Bentenan,
bajak laut menggunakan budak-budak sebagai pendayung. Para budak tawanan
bajak laut lari ke Ratahan ketika malam hari armada perahu bajak laut
dirusak prajurit Ratahan – Pasan. Kesimpulan sementara yang dapat kita
ambil dari kumpulan cerita ini adalah Penduduk asli wilayah ini adalah
Touwuntu di wilayah dataran rendah sampai tepi pantai Toulumawak di
pegunungan, mereka adalah keturunan Opok Soputan abad ke-tujuh. Nama
Opo' Soputan ini muncul lagi sebagai kepala walak wilayah itu abad 16
dengan kepala walak kakak beradik Raliu dan Potangkuman. Penduduk
wilayah ini abad 16 berasal dari penduduk asli dan para pendatang dari
Tombulu, Tompakewa (Tontemboan), Tonsea, Ternate dan tawanan bajak laut
mungkin dari Sangihe.
Perjuangan Minahasa Melawan Spanyol
Ratu
Oki berkisar di tahun 1644 sampai 1683. Waktu itu, terjadi perang yang
hebat antara anak suku Tombatu (juga biasa disebut Toundanow atau
Tonsawang) dengan para orang-orang Spanyol. Perang itu dipicu oleh
ketidaksenangan anak suku Tombatu terhadap orang-orang Spanyol yang
ingin menguasai perdagangan terutama terhadap komoditi beras, yang kala
itu merupakan hasil bumi andalan warga Kali. Di samping itu kemarahan
juga diakibatkan oleh kejahatan orang-orang Spanyol terhadap warga
setempat, terutama kepada para perempuannya. Perang itu telah
mengakibatkan tewasnya 40 tentara Spanyol di Kali dan Batu (lokasi Batu
Lesung sekarang – red). Naasnya, di pihak anak suku Tombatu, telah
mengakibatkan tewasnya Panglima Monde bersama 9 orang tentaranya.
Panglima Monde tidak lain adalah suaminya Ratu Oki. Menurut yang
dikisahkan dalam makalah itu, Panglima Monde tewas setelah mati-matian
membela istrinya, Ratu Oki.Menurut P.A. Gosal, dkk., dalam masa
kekuasaan Ratu Oki, anak suku Toundanow (sebutan lain untuk anak suku
Tombatu atau Tonsawang) yang mendiami sekitar danau Bulilin hidup
sejahtera, aman dan tenteram. “Atas kebijaksanaan dan kearifannya
memimpin anak suku Toudanow maka Ratu Oki disahkan juga sebagai Tonaas
atau Balian. Selama kepemimpinnan Ratu Oki, Spanyol dan Belanda tidak
pernah menguasai atau menjajah anak Toundanow,”
Perang Minahasa lawan Spanyol
Para
pelaut awak kapal Spanyol berdiam di Minahasa dan bahkan membaur dengan
masyarakat. Mereka menikah dengan wanita-wanita Minahasa, sehingga
keturunan mereka menjadi bersaudara dengan warga pribumi.
Tahun
1643 pecah perang Minaesa Serikat melawan kerajaan Spanyol. dalam suatu
peperangan di Tompaso, pasukan spanyol dibantu pasukan Raja Loloda
Mokoagouw II dipukul kalah, mundur oleh gabungan pasukan serikat
Minaesa, dikejar hingga dipantai tapi
Tahun
1694 dalam suatu peperangan di Tompaso, pasukan Raja Loloda Mokoagouw
II dipukul kalah, mundur oleh gabungan pasukan serikat Minahasa, dikejar
hingga ke pantai tapi dicegah dan ditengahi oleh Residen V.O.C. Herman
Jansz Steynkuler. Pada tahun 1694 bulan September tanggal 21,
diadakanlah kesepakatan damai, dan ditetapkan perbatasan Minahasa adalah
sungai Poigar. Pasukan Serikat Minaesa yang berasal dari Tompaso
menduduki Tompaso Baru, Rumoong menetap di Rumoong Bawah, Kawangkoan
mendiami Kawangkoan bawah, dan lain sebagainya.
Pada pasa pemerintahan kolonial Belanda maka daerah ini semula masih otonom tetapi lama kelamaan kelamaan kekuasaan para raja dikurangi dengan diangkatnya raja menjadi pejabat pemerintahan Belanda, sehingga raja tinggal menjadi pejabat wilayah setingkat 'camat'.
Tahun 1521 Spanyol Mulai Masuk perairan Indonesia
Awak
kapal Trinidad yang ditangkap oleh Portugal dan dipenjarakan kemudian
dengan bantuan pelaut Minahasa dan Babontewu dari kerajaan Manado mereka
dapat meloloskan diri. Ke 12 pelaut ini kemudian berdiam dipedalaman
Minahasa, ke Amurang terus ke Pontak, kemudian setelah beberapa tahun
mereka dapat melakukan kontak kembali dengan armada Spanyol yang telah
kembali ke Pilipina. 1522 Spanyol memulai kolonisasi di Sulawesi Utara
1560 Spanyol mendirikan pos di Manado
Minahasa memegang peranan sebagai lumbung beras bagi Spanyol ketika melakukan usaha penguasaan total terhadap Filipina.
Pada
tahun 1550 Spanyol telah mendirikan benteng di Wenang dengan cara
menipu Kepala Walak Lolong Lasut menggunakan kulit sapi dari Benggala
India yang dibawa Portugis ke Minahasa. Tanah seluas kulit sapi yang
dimaksud spanyol adalah tanah seluas tali yang dibuat dari kulit sapi
itu. Spanyol kemudian menggunakan orang Mongodouw untuk menduduki
benteng Portugis di Amurang pada tahun 1550-an sehingga akhirnya Spanyol
dapat menduduki Minahasa. Dan Dotu Kepala Walak (Kepala Negara) Lolong
Lasut punya anak buah Tonaas Wuri' Muda.
Nama Kema dikaitkan dengan pembangunan pangkalan militer Spanyol ketika
Bartholomeo
de Soisa mendarat pada 1651 dan mendirikan pelabuhan di daerah yang
disebutnya ‘La Quimas.’ Penduduk setempat mengenal daerah ini dengan
nama ‘Maadon’ atau juga ‘Kawuudan.’ Letak benteng Spanyol berada di
muara sungai Kema, yang disebut oleh Belanda, "Spanyaardsgat, " atau
Liang Spanyol.
Dr.
J.G.F. Riedel menyebutkan bahwa armada Spanyol sudah mendarat di Kema
tepat 100 tahun sebelumnya.Kema berkembang sebagai ibu negeri Pakasaan
Tonsea sejak era pemerintahan Xaverius Dotulong, setelah taranak-taranak
Tonsea mulai meninggalkan negeri tua, yakni Tonsea Ure dan mendirikan
perkampungan- perkampungan baru. Surat Xaverius Dotulong pada 3
Februrari 1770 kepada Gubernur VOC di Ternate mengungkapkan bahwa
ayahnya, I. Runtukahu Lumanauw tinggal di Kema dan merintis pembangunan
kota ini. Hal ini diperkuat oleh para Ukung di Manado yang mengklaim
sebagai turunan dotu Bogi, putera sulung dari beberapa dotu bersaudara
seperti juga dikemukakan Gubernur Ternate dalam surat balasannya kepada
Xaverius Dotulong pada 1 November 1772.
Asal nama Kema
Misionaris
Belanda, Domine Jacobus Montanus dalam surat laporan perjalanannya pada
17 November 1675, menyebutkan bahwa nama Kema, yang mengacu pada
istilah Spanyol, adalah nama pegunungan yang membentang dari Utara ke
Selatan. Ia menulis bahwa kata ‘Kima’ berasal dari bahasa Minahasa yang
artinya Keong. Sedangkan pengertian ‘Kema’ yang berasal dari kata
Spanyol, ‘Quema’ yaitu, nyala, atau juga menyalakan. Pengertian itu
dikaitkan dengan perbuatan pelaut Spanyol sering membuat onar membakar
daerah itu. Gubernur Robertus Padtbrugge dalam memori serah terima pada
31 Agustus 1682 menyebutkan tempat ini dengan sebutan "Kemas of grote
Oesterbergen, " artinya adalah gunung-gunung besar
menyerupai Kerang besar. Sedangkan dalam kata Tonsea disebut ‘Tonseka,’ karena berada di wilayah Pakasaan Tonsea.
Hendrik
Berton dalam memori 3 Agustus 1767, melukiskan Kema selain sebagai
pelabuhan untuk musim angin Barat, juga menjadi ibu negeri Tonsea. Hal
ini terjadi akibat pertentangan antara Manado dengan Kema oleh sengketa
sarang burung di pulau Lembeh. Pihak ukung-ukung di Manado menuntut hak
sama dalam bagi hasil dengan ukung-ukung Kema. Waktu itu Ukung Tua Kema
adalah Xaverius Dotulong.
Portugis
dan Spanyol merupakan tumpuan kekuatan gereja Katholik Roma memperluas
wilayah yang dilakukan kesultanan Ottoman di Mediterania pada abad
ke-XV. Selain itu Portugis dan Spanyol juga tempat pengungsian pengusaha
dan tenaga-tenaga terampil asal Konstantinopel ketika dikuasai
kesultanan Ottoman dari Turki pada 1453. Pemukiman tersebut menyertakan
alih pengetahuan ekonomi dan maritim di Eropa Selatan. Sejak itupun
Portugis dan Spanyol menjadi adikuasa di Eropa. Alih pengetahuan
diperoleh dari pendatang asal Konstantinopel yang memungkinkan bagi
kedua negeri Hispanik itu melakukan perluasan wilayah-wilayah baru
diluar daratan Eropa dan Mediterania. Sasaran utama adalah Asia-Timur
dan Asia-Tenggara. Mulanya perluasan wilayah antara kedua negeri terbagi
dalam perjanjian Tordisalles, tahun 1492. Portugis kearah Timur
sedangkan Spanyol ke Barat. Masa itu belum ada gambaran bahwa bumi itu
bulat. Baru disadari ketika kapal-kapal layar kedua belah pihak bertemu
di perairan Laut Sulawesi. Kenyataan ini juga menjadi penyebab terjadi
proses reformasi gereja, karena tidak semua yang menjadi "fatwa" gereja
adalah Undang-Undang, hingga citra kekuasaan Paus sebagai penguasa dan
wakil Tuhan di bumi dan sistem pemerintahan absolut theokratis ambruk.
Keruntuhan ini terjadi dengan munculnya gereja Protestan rintisan Martin
Luther dan Calvin di Eropa yang kemudian menyebar pula ke berbagai
koloni Eropa di Asia, Afrika dan Amerika.
Dari
kesepakatan Tordisalles itu, Portugis menelusuri dari pesisir pantai
Afrika dan samudera Hindia. Sedangkan Spanyol menelusuri Samudera
Atlantik, benua Amerika Selatan dan melayari samudera Pasifik. Pertemuan
terjadi ketika kapal-kapal Spanyol pimpinan Ferdinand Maggelan
menelusuri Pasifik dan tiba di pulau Kawio, gugusan kepulauan Sangir dan
Talaud di Laut Sulawesi pada 1521. Untuk mencegah persaingan di
perairan Laut Sulawesi dan Maluku Utara, kedua belah pihak memperbarui
jalur lintas melalui perjanjian Saragosa pada tahun 1529. Perjanjian
tersebut membagi wilayah dengan melakukan batas garis tujuhbelas derajat
lintang timur di perairan Maluku Utara. Namun dalam perjanjian
tersebut,
Spanyol
merasa dirugikan karena tidak meraih lintas niaga dengan gugusan
kepulauan penghasil rempah-rempah. Untuk itu mengirimkan ekspedisi
menuju Pasifik Barat pada 1542. Pada bulan Februari tahun itu lima kapal
Spanyol dengan 370 awak kapal pimpinan Ruy Lopez de Villalobos menuju
gugusan Pasifik Barat dari Mexico . Tujuannya untuk melakukan perluasan
wilayah dan sekaligus memperoleh konsesi perdagangan rempah-rempah di
Maluku Utara.
Dari
pelayaran ini Villalobos mendarat digugusan kepulauan Utara disebut
Filipina, di ambil dari nama putera Raja Carlos V, yakni Pangeran
Philip, ahli waris kerajaan Spanyol. Sekalipun Filipina tidak
menghasilkan rempah-rempah, tetapi kedatangan Spanyol digugusan
kepulauan tersebut menimbulkan protes keras dari Portugis. Alasannya
karena gugusan kepulauan itu berada di bagian Barat, di lingkungan
wilayahnya. Walau mengkonsentrasikan perhatiannya di Amerika-Tengah,
Spanyol tetap menghendaki konsesi niaga rempah-rempah Maluku-Utara yang
juga ingin didominasi Portugis. Tetapi Spanyol terdesak oleh Portugis
hingga harus mundur ke Filipina. Akibatnya Spanyol kehilangan pengaruh
di Sulawesi Utara yang sebelumnya menjadi kantong ekonomi dan menjalin
hubungan dengan masyarakat Minahasa.
Pengenalan kuliner asal Spanyol di Minahasa
Peperangan
di Filipina Selatan turut memengaruhi perekonomian Spanyol. Penyebab
utama kekalahan Spanyol juga akibat aksi pemberontakan pendayung yang
melayani kapal-kapal Spanyol. Sistem perkapalan Spanyol bertumpu pada
pendayung yang umumnya terdiri dari budak-budak Spanyol. Biasanya kapal
Spanyol dilayani sekitar 500 - 600 pendayung yang umumnya diambil dari
penduduk wilayah yang dikuasai Spanyol. Umumnya pemberontakan para
pendayung terjadi bila ransum makanan menipis dan terlalu dibatasi dalam
pelayaran panjang, untuk mengatasinya Spanyol menyebarkan penanaman
palawija termasuk aneka ragam cabai (rica), jahe (goraka), kunyit dll.
Kesemuanya di tanam pada setiap wilayah yang dikuasai untuk persediaan logistik makanan awak kapal dan ratusan pendayung.
Sejak
itu budaya makan "pidis" yang di ramu dengan berbagai bumbu masak yang
diperkenalkan pelaut Spanyol menyebar pesat dan menjadi kegemaran
masyarakat Minahasa.
Ada
pula yang menarik dari peninggalan kuliner Spanyol, yakni budaya
Panada. Kue ini juga asal dari penduduk Amerika-Latin yang di bawa oleh
Spanyol melalui lintasan Pasifik. Bedanya, adonan panada, di isi dengan
daging sapi ataupun domba, sedangkan panada khas Minahasa di isi dengan
ikan.
Kota
Kema merupakan pemukiman orang Spanyol, dimulai dari kalangan
"pendayung" yang menetap dan tidak ingin kembali ke negeri leluhur
mereka. Mereka menikahi perempuan-perempuan penduduk setempat dan hidup
turun-temurun. Kema kemudian juga dikenal para musafir Jerman, Belanda
dan Inggris. Mereka ini pun berbaur dan berasimilasi dengan penduduk
setempat, sehingga di Kema terbentuk masyarakat pluralistik dan
memperkaya Minahasa dengan budaya majemuk dan hidup berdampingan
harmonis. Itulah sebabnya hingga masyarakat Minahasa tidak canggung dan
mudah bergaul menghadapi orang-orang Barat.
Pergerakan Mengusir Penjajahan lawan Spanyol
Minahasa
juga pernah berperang dengan Spanyol yang dimulai tahun 1617 dan
berakhir tahun 1645. Perang ini dipicu oleh ketidakadilan Spanyol
terhadap orang-orang Minahasa, terutama dalam hal perdagangan beras,
sebagai komoditi utama waktu itu. Perang terbuka terjadi nanti pada
tahun 1644-1646. Akhir dari perang itu adalah kekalahan total Spanyol,
sehingga berhasil diusir oleh para waranei (ksatria-ksatria Minahasa).











0 komentar:
Posting Komentar